Road to be a Professional Doctor


Yogyakarta (15/3) – Pagi menjelang siang ini, sekitar pukul 09.00 WIB beberapa mahasiswa program studi Pendidikan Dokter angkatan 2007 sudah duduk berkumpul di suatu tempat. Yak, tepatnya di lantai 3 gedung kantor pusat tata usaha Fakultas Kedokteran UGM. Saya sendiri baru dapat bergabung dengan yang lainnya pada pukul 09.40. Saat itu sudah ada 3-4 orang teman saya yang datang terlebih dahulu. Dalam sekitar 20 menit selanjutnya beberapa teman lainnya mulai berdatangan. Tepat pada pukul 10 kami dipersilakan masuk ke dalam ruang sidang utama dengan terlebih dahulu menandatangani lembar presensi serta mengambil sekotak makanan ringan lengkap dengan segelas air mineral.

Ada apa ini?? Suatu gerangan lah yang mengumpulkan kami (19 orang) di tempat dan saat ini. Gerangan yang dinanti-nanti kehadirannya tersebut adalah “professional behavior’s time!”. Kami adalah manusia dengan nama-nama istimewa yang tidak (belum) termasuk dalam daftar nama mahasiswa yang dinyatakan lulus yudisium bulan Maret ini, melainkan nama-nama pilihan yang diundang untuk menemui tim professional behavior pada siang hari ini. Ber19 orang kami ini adalah orang-orang beruntung untuk bisa mendapatkan pencerahan kesadaran mengenai ilmu tentang pentingnya professional behavior yang lebih dibandingkan teman-teman seangkatan kami lainnya. Dalam konteks kami sebagai mahasiswa kedokteran yang dalam beberapa saat lagi akan memasuki dunia pendidikan profesi, tentunya para guru kami ingin memberikan kami bekal etika yang cukup dan layak untuk menjadi dokter muda nantinya.

Jujur, disini awalnya ketika mengetahui pengumuman tersebut saya pribadi, dan mungkin juga teman-teman lainnya, merasakan perasaan yang bercampur-aduk antara bingung, khawatir, kecewa, sedih, marah, tertawa, aneh, galau, confused (eh sama dengan bingung ya), can’t even think why it should be happened, bertanya-tanya, dan lain sebagainya. Kenapa juga harus mendadak. Kenapa tidak ada peringatan apapun sebelumnya. Dan kenapa harus KAMI. Se-‘distinguished’ itu kah kami sampai nama kami dipisahkan dari daftar nama teman-teman kami lainnya? FYI, hal seperti ini baru pertama kali ini dilakukan, ya, pada kami, lucky angkatan 2007 😀

Seorang teman yang tadinya sudah mudik ke kampung halaman bahkan harus merelakan tiket pesawat PP jogja-malaysia hanya untuk pertemuan ini. Teman yang lain harus merelakan liburan yang sudah direncanakan dan dibayar jauh-jauh hari. Sebagian lainnya ya bisa dibilang harus merelakan perasaannya yang bertanya-tanya menunggu sesuatu yang tidak jelas selama 3 hari untuk pertemuan ini (itu saya sendiri sih :p). Efek lainnya kami ‘dibedakan’ sehingga tidak dapat mengurus persyaratan wisuda, tes kesehatan, daln lain sebagainya. Mulai jam 10 hari ini kami berharap semuanya dapat terjawab dengan memuaskan dan terselesaikan dengan baik dan sebijaksana mungkin.

Pertemuan dibuka oleh dr. T H, DTM&H, MKes. Beliau menegaskan dan mengingatkan kami kembali bahwa kami dikumpulkan disini adalah untuk maksud dan tujuan yang baik, bahwa seorang dokter yang profesional nantinya kami harus menguasai 3 ranah utama, yaitu: 1) Knowledge, 2) Skills, dan 3) Behavior. Kami tidak ‘diperkenankan’ untuk excellent hanya disalah satu atau salah dua-nya saja, namun HARUS excellent pada ketiga-tiganya. Hal ini menjadi sangat krusial karena belakangan banyak manusia-manusia yang lulus sebagai dokter namun sayangnya mereka hanya lulus di otak dan/atau lulus di ‘tangan’ saja (keterampilan maksudnya). Hasilnya? Laporan-laporan malpraktek lah, tuntut-menuntut lah, dll. Jadi jangan pernah mengatakan ‘cuma’ atau cara lain apapun untuk meremehkan poin nomor 3!

Setelah itu dibuka sesi pertanyaan dan pernyataan mengenai apapun bagi kami (mahasiswa) yang ingin bertanya atau mengklarifikasi terkait masalah ini, sebelum dilanjutkan pada penjelasan selanjutnya mengenai sistem dan poin-poin penilaian. Beberapa orang dari teman-teman bertanya: ‘mengapa tidak ada peringatan atau bimbingan sebelumnya’, ‘mengapa semua pengumuman begitu mendadak dan bersamaan dengan pengumuman yudisium’, ‘apakah masih ada teman-teman kami lainnya yang akan dipanggil setelah ini’, dsb. Jawaban yang kami dapatkan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sejauh ini : memang seharusnya ada alur mengenai mekanisme dan sistem pelanggaran terkait  perilaku profesional, namun belum semua tutor (orang yang menilai perilaku profesional) paham bahwa mahasiswa yang melakukan pelanggaran seharusnya diberi feedback agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan juga kami (tim profesional behavior/tpb) sudah ingin mengumumkan jauh-jauh hari, hanya saja terkait dengan kendala administratif sehingga kami (tpb) juga kaget baru diumumkannya jumat kemarin dan diadakan pertemuannya hari ini, dan kami (tpb) juga mohon maaf karena hal ini. Dan untuk nama-nama lainnya masih ada yang akan mendapat bimbingan dari tpb hanya saja akan dibuat tidak mendadak seperti ini dan lebih baik lagi.

Setelah sesi tanya jawab dilanjutkan dengan pemaparan professional behavior itu sendiri oleh dr. E M, Sp.Rad. Beliau membuka mata kami kembali mengenai pentingnya professional behavior, dan yang terlebih penting lagi adalah agar bisa belajar dari kesalahan, tidak mengulanginya, dan berubah menjadi seseorang yang lebih baik dan menebar kebaikan. Beliau mencontohkan seorang teladan, Sunan Kalijaga, mungkin sudah pada tahu kisah Sunan Kalijaga ya (saya pun sudah tahu, tapi ya baru hari ini ini. hehe). Singkatnya, Sunan Kalijaga yang dulunya seorang penjahat kemudian dididik oleh Sunan Bonang menjadi orang baik dan akhirnya Sunan Kalijaga insyaf dan malah menjadi penyebar kebaikan untuk manusia-manusia lainnya (ingat ya, seorang penjahat, dididik, bukannya dihukum!). Nah, kira-kira kami ber19 disini diharapkan nantinya bisa menjadi sunan kalijaga-kalijaga baru, khususnya dalam bidang perilaku profesional xD

Beliau juga menyadarkan bagaimana sebuah bangsa yang maju adalah bangsa dengan warga negara yang sadar akan disiplin, contohnya seperti yang sedang hangat menjadi pemberitaan, Jepang baru saja mengalami musibah gempa dan tsunami. Salah satu akibat setelah bencana tersebut adalah masyarakat sulit mendapatkan air bersih sehingga mereka harus ngantri untuk mendapatkan air bersih yang terbatas jumlahnya. Disana, tidak seperti disini (Indonesia), rakyat mengantri dengan tertib, disiplin, dan sabar. Tidak ada saling dorong, ricuh, maupun keributan barang sekecil apapun. Semua melakukan yang seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan yang seharusnya tidak dilakukan. Lancar dan tertib. Begitu pula dalam dunia transportasi, pasti akan didahulukan orang yang mengatri lebih awal untuk naik ke atas bus terlebih dahulu. Tidak ada seorang berseragam sekalipun yang merasa dirinya lebih pantas menyerobot naik angkutan umum mendahului yang lain yang sudah datang lebih dulu. Saling menghormati.

Kemudian beliau bertanya, siapakah yang akan anda pilih, dokter dengan tindikan di telinga kanan-kiri dengan rokok di sela-sela jari memakai celana jeans bolong-bolong, atau seorang dokter humble dengan kemeja rapi (walaupun tidak bermerk) dan celana bahan rapi sopan (walaupun jahit sendiri) plus wangi yang menyejukkan?? Semua setuju akan memilih dokter yang ke-2 bukan? Jika ingin menjadi dokter yang baik, kita harus benar-benar mengamalkan D(disiplin).O(optimis).K(komprehensif).T(tanggungjawab).E(empati).R(ramah&religius) yang B(bicaranya baik).A(akhlaknya baik).I(i’tikadnya baik).K(omunikasinya baik). Disini kita juga harus ingat, semua diawali oleh pikiran (thought). Pikiran akan menimbulkan tindakan (act). Tindakan yang dilakukan terus-menerus akan membentuk kebiasaan (habit). Ketika sudah menjadi kebiasaan  kemudian akan membentuk suatu karakter pada individu tersebut. Diharapkan pola ini dapat kita terapkan dalam hal-hal yang positif seperti DOKTER yang BAIK di atas yaa :D. Ga mau kan nantinya kita dikenal karena sifat buruk kita? Misalnya, “Oooo.. dokter B yang gondrong dan jarang ganti baju itu yaa..”. Yang diinget orang adalah penampilan dan kebiasaan buruknya T.T padahal siapa tau dokter B yang gondrong dan mungkin jarang mandi itu pinter dan encer banget otaknya sebenarnya.. tapi apa mau dikata..

Sambung dr. E M, Sp.Rad lagi, “..jadi disini sekali lagi, kalian adalah Duta-duta Professional Behavior (the ambassador of professional behavior) untuk teman-teman kalian lainnya. Kalian lah yang diharapkan akan menebar kebaikan dan mengajak teman-teman lainnya untuk berperilaku profesional. Karena penilaian perilaku profesional tidak akan berhenti hanya sampaidisini, akan terus dinilai baik dalam masa pendidikan profesi (koas) nantinya.. Kalian sanggup untuk menjadi lebih baik?? Kalian bisa berjanji untuk berperilaku disiplin dan profesional??…” Awalnya kami semua terdiam. Ragu. Namun kemudian pertanyaan sekaligus pernyataan tadi diulang, dan kami serempak mengangkat tangan. Malah tadinya nama-nama kami mau ditempel di bagian-bagian dan kami diberi pin, lencana, atau semacamnya gitu, tapi tidak jadi karena mungkin itu bukan merupakan cara mendidik yang baik karena akan menimbulkan stigma yang belum tentu baik bagi semua orang.

Secara ringkas dr. E M, Sp.Rad juga menjelaskan mengenai poin-poin perilaku profesional yang menjadi peraturan baku pada form yang sudah ditanda-tangani setiap mahasiswa ketika pertama kali masuk perguruan tinggi. Form tersebut memaparkan tentang peraturan yang harus ditaati oleh setiap mahasiswa di kampus, seperti etika berpakaian: tidak boleh memakai cadar, celana jeans, kaos tanpa kerah, memberikan pencerahan, piercing, sendal jepit, celana pendek,dll. Juga peraturan mengenai perilaku : disiplin, tanggung jawag, dan lain sebagainya (saya lupa detilnya. hehe). Serta ‘ancaman’ pengeluaran mahasiswa jika melakukan pelanggaran berat seperti : memakai narkoba/napza/dkk, melakukan tindak kriminal/pidana, melakukan pengerusakan terhadap fasilitas kampus. Untuk tiga pelanggaran terakhir tidak ada rir-mentolerir lagi.

Selanjutnya secara lebih rinci dr. N A M memaparkan mengenai sistem penilaian professional behavior serta poin-poin apa saja yang dilanggar oleh mahasiswa. Hakikatnya, tim profesional behavior yang diketuai oleh ibu Dra. Y S P, M.Si., PhD. sudah memiliki sistem dan alur untuk menilai dan mengawasi mahasiswa. Ada beberapa poin dalam kegiatan tutorial yang harus diperhatikan : 1) datang tepat waktu, 2) membawa buku tutorial, 3) membaca skenario sebelumnya, 4) membuat catatan ringkas sesuai skenario, 5) berpakaian appropriate, 6) aktif dalam diskusi, dan 7) tidak mengganggu jalannya diskusi. Melanggar salah satu dari 7 nilai di atas akan mendapat satu kartu kuning. Akumulasi tiga kartu kuning akan mendapat satu kartu orange. Namun ketika sudah mendapat tiga kartu kunig, (seharusnya) akan dikonsultasikan dengan DPA (dosen pembimbing akademik) yang diharapkan DPA mengetahui alasan mahasiswa tersebut melakukan pelanggaran, apakah bisa termaafkan atau tidak. Bisa saja mahasiswa tersebut dimaafkan dan mendapat remisi pengurangan jumlah kartu kunignya, atau jika alasan tidak dapat diterima mahasiswa tersebut tetap akan mendapat 1 buah kartu orange dari 3 akumulasi kartu kuning (ingat, ini seharusnya! namun kenyataannya kami tidak mengalami proses seperti ini!). Akumulasi 3 karu orang akan mendapat 1 kartu merah. Jika sudah mendapat kartu merah maka tim professional behavior yang lebih tinggi lagi yang akan memproses mahasiswa yang melakukan pelanggaran tersebut. Sampai pada jika terdapat akumulasi beberapa kartu merah maka mahasiswa tersebut sudah wajib membutuhkan special treatment. Terus nanti diliat deh gimana-gimananya, apakah sudah sangat amat tidak terampuni atau masih terampuni dengan syarat atau terapi tertentu..

Tadinya kami yang masih penasaran sama kesalahan kami meminta untuk dibuka saja semua nama-nama kami dan dilihat palanggaran apa yang sudah kami perbuat sampai kami diundang dalam pertemuan ini. Namun dr. E M, Sp.Rad tidak setuju, karena bagi beliau kami dihadirkan disini bukan untuk disidang dan dimarahi karena pelanggaran tersebut, namun untuk duduk bersama, berdiskusi, disadarkan kembali dan dibuat lebih berkomitmen, jadi bukan untuk mencari-cari kesalahan. Di akhir sesi secara personal baru kami menanyakan kesalahan kami pada dr. N A M. Dan ternyata peringkat pertama kesalahan yang sering dibuat mahasiswa adalah masalah keterlambatan!

Sampai disini kami belum merasa lega karena output atau hasil pertemuan ini belum jelas, apakah kami dapat mengikuti yudisium pertama dan wisuda bulan Mei nanti atau tidak. Setelah dikonfirmasi lagi ternyata tim professional behavior sejujurnya tidak mengetahui perihal bahwa kami terhambat dalam mendaftar wisuda, tes kesehatan, dll. Kemudian dr. E M, Sp.Rad menjamin bahwa setelah ini akan segera diadakan rapat untuk mengusahakan dan membantu kami agar bisa tetap mengikuti yudisium pertama. Dan beliau juga menjamin bahwa paling lambat besok pagi harinya pengumuman sudah keluar dan kami tidak terhalang lagi jika ingin mengikuti tes kesehatan, dll. Very much obliged to dr. E M, Sp.Rad :))

Sehingga dapat disimpulkan, hasil dari pertemuan hari itu adalah sebagai berikut :

1. Fakultas akan meluluskan semua mahasiswa yang hadir pada pertemuan ini dan yang izin dengan alasan yang dapat diterima (urusan akademik).

2. Ke depannya kami diminta keep contact dalam rangka mentransformasikan professional behavior ke teman-teman yang lain (apakah ini the way they punish us :p which is the best way i think!). Bioetik siap memfasilitasi ide dan support sarananya.

Alhamdulillah.. Happy ending story. So many lessons that we can learn from it. Dan, akhirnya, orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengambil hikmah positif dari berbagai hal yang menimpa dirinya tidak hanya ketika senang samun juga ketika dirasa kurang beruntung 🙂

ZA

Jogja, 16 Maret 2011

Terselesaikannya tulisan ini. Haaa panjang juga ya jadinyaa x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s