Oret-oretan koas obgyn!


“Only mothers can think of the future-because they give birth to it in their children.” -Maxim Gorky

“Dila lahir 2,98 kg. Fiki 3,8 kg, Alle 3,4 kg.” –Bundaku.  ‘Berarti dila paling kecil dong, Bun =(.’ ‘Iya, tapi mereka kan cowok =).’

Terakhir kali nunggu keluarga yang mau lahiran itu bulan Juli tahun 2006. Uncu (tante) yang lagi hamil anak ke-2, kebetulan tinggal bareng di rumah. Jadi benar-benar (merasa) ikut dan (sok) tahu dalam proses kelahirannya. Only fyi, I was still a senior high school student at that time.

April 25th, 2012. 00:25.

Saya duduk di nurse station kamar bersalin sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) salah satu daerah di jawa Tengah, sebagai seorang dokter muda (koas) kandungan dan kebidanan (obgyn). Para bidan dan akbid yang juga jaga malam udah pada masuk kamar masing-masing untuk sekedar tiduran sejenak. Saya? masih nunggu beberapa menit lagi karena mau injeksi obat ke pasien.

*Balik lagi ke Juli 2006*

Uncu kala itu udah masuk ke kamar bersalin selama 2 hari (kalau ga salah). Dulu ga ngerti masuknya karena apa, cuma ‘oh mungkin udah waktunya lahir’. Sekarang baru sedikit lebih ngerti dan menerka-nerka, mungkin waktu itu uncu udah mulai merasa his (kenceng-kenceng) ya, atau karena udah keluar lendir darah, atau bisa juga karena air ketubannya sudah pecah. Tapi udah 2 hari di rumah sakit kok ga lahir-lahir juga bayinya. Ada apa? Kata dokter waktu itu harus diinduksi. Saya kala itu cuma bisa ‘ohh..ya ya..’ sambil manggut-manggut. Sekarang baru tau diinduksi itu salah satu yang disebut orang awam dipacu, mempercepat kelahiran. Dan ada 2 istilah sebenarnya, induksi dan stimulasi. Bedanya, induksi itu dilakukan saat udah seharusnya lahir (karena berbagai faktor) namun mulut rahim tempat turunnya janin belum membuka sama sekali (dimulai). Kalau stimulasi, udah dalam proses persalinan, mulut rahim membuka, tapi setelah jangka waktu tertentu ga ada kemajuan pembukaannya, jadi distimulasi. Obat dan dosis yang digunakan pun beda.

Jadi mengkhayal. Kalau aja Juli 2006 itu saya udah jadi koas, mungkin akan bisa nolong uncu sendiri untuk melahirkan sepupu sendiri. Oia, karena ga maju-maju persalinannya kala itu, akhirnya tanggal 3 Juli 2006 dokter memanggil om ku untuk bicara empat mata. Dokter menjelaskan keadaan istri dan janinnya, dan menyarankan untuk dilakukan operasi caesar demi keselamatan dan kesehatan keduanya. Ahh..lagi-lagi mengkhayal, andai saja waktu itu udah jadi koas mungkin bisa ikut masuk dan bicara dengan dokter, dan mungkin saja bisa ikut operasinya juga!

Ini yang ditunggu-tunggu! ^^

“Let your Father and your Mother be glad, and let her rejoice who gave birth to you.” — Proverb

April 25th, 2012. 15:30.

Saya sedang di tempat yang sama (nurse station kamar bersalin). Bukaan. Bukan karena tinggal disini. Bukan juga karena ga pulang-pulang. Dan jelas bukan karena disandera atau diikat disini. Tapi emang ini jadwal saya jaga sore (lagi).

Yang menarik yang saya amati selama disini adalah.. it’s so damn true that destiny, luck, fate, and life…………………….. *to be continued, be right back, ada yang mau partus (lahiran!)*

Alhamdulillaah.. partus yang barusan saya tolong berjalan lancar dan relatif cepat. Salah satu partus yang cukup sukses menurut saya, dalam beberapa indikator lainnya: lahir spontan (normal lewat vag*na tanpa bantuan alat), ejanan ibu adekuat, bayi cepat turun dan lahir (ga kelamaan di pintu panggul), jalan lahir ga digunting atau dilebarkan, dan bayi lahir sehat langsung menangis, dan gendut pula, cewek 3,65 kg *.*

Itu dia salah satu yang menarik disini. Saya menyaksikandan melihat langsung proses persalinan seorang ibu dan bagaimana partisipasi dan respon suami serta keluarga. Ada partus yang dramatis, melankolis, the tough one, the spirited one, ibu yang manja, yang kayak anak kecil jejeritan, the so-quick-delivery, the long labor, ada yang melahirkan dengan bersih, namun ada juga yang kotor. And of course, it’s either sad or happy ending.


“If men had to have babies, they would only ever have one each.” -Princess Diana

“It’s like childbirth. It’s uncomfortable, painful, sometimes bloody, but you’re always being stretched.” -Dr. Howard Tullman

“The pains of childbirth were altogether different from the enveloping effects of other kinds of pain. These were pains one could follow with one’s mind.” -Margaret Mead

April 25th, 2012. 17:30.

Satu setengah jam lagi menuju berakhirnya sesi jaga kali ini. yeayy! \=D/

*NB: di penghujung sesi jaga hari ini ternyata ada partus lagi! Alhamdulillah, bisa nolong 2 partus dalam 5 jam jaga ^^

Tschussss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s