Menjemput Ombak, Kemudian Bhlurrphbrphlurphh!


Image
White sand beach, Karangasem, Bali

Ombak datang!! Saat ombak lebih besar dari biasanya datang, pecah benar-benar sesaat sebelum sampai kepadamu. Ga bisa kabur dan berbuat apa-apa. Kemudian, Byurrbluphpblprphjhhbrlrlppp. Walaupun dengan kacamamata renang terpasang semestinya, ga ada yang bisa menjernihkan pandangan yang hanya air campur pasir diaduk rata dengan kekuatan ombak mendorong dan menarik semaunya. Kebisaan berenang pun ga guna dibanding tenaga ombak yang sedang aktif-aktifnya. Tidak terhitung berapa mili atau liter air yang masuk ke esofagus dan nasofaring secara bersamaan. Asin. Perih. Dan tau tau saya sudah ngelongsor aja di bibir pantai yang kalau dilihat dari atas layaknya orang terdampar. Begini ya rasanya adegan-adegan digulung ombak yang beberapa kali saya lihat lewat film itu. Padahal beberapa detik sebelumnya memang berniat “menjemput” ombak..

Ini lah klimaks bermain dengan ombak hari ini, awash! Saat ombak tanpa ampun, tanpa memperlambat tempo barang seperdetik pun dengan adanya aku (siapa gueh? :p), seakan udah ga sabar lagi berderai pecah setelah lamat-lamat mengumpulkan kekuatan dari tengah laut sana. Byaaarrr!!! (deskripsikan sendiri suara pecahnya ombak.. hehe) menggulung apa saja, siapa saja di depannya.

Setelah ombak asoliton (bukan soliton) cukup raksasa ini melakukan layaknya propogation (gerakan puncak ombak yang keras), sisanya anak-anakan ombak yang lebih ramah bagi kami yang ingin bermain bercengkrama dengan mereka. Ramahnya ombak adalah jika kita juga mampu menempatkan diri. Beradalah di suatu titik dimana ombak belum pecah, dimana ombak masih dalam proses mengumpulkan kekuatan maksimumnya, bergerak mengalun berirama, menimbulkan gelombang menggunung, sebelum pecah.

Dan saya menyimpulkan, ombak itu unik. Kenapa? Gatau juga sih wkwk. Mereka seperti ga kemana-mana. Bergerak menjauhi sentral ke tepi pantai. Setelah itu seperti tersedot kembali kemudian ke pinggir lagi. Begiitu teruss. Rupa mereka juga hampir sama tapi gerakan mereka variatif sekali. Pasir dibawah dibuat galau, diulur kemudian ditarik, diulur lalu ditarik, begituu aja. Yang jelas di White Sand Beach ini (dengan harga tiket masuk Rp 3 ribu) saya merasa punya kolam ombak raksasa pribadi. Kolam ombak di waterboom manapun ga ada yang bisa ngalahin kolam ombak buatan Allah ini. Hehe. A demain, Ombak! 🙂

Image
calm beach with the calm me 😎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s