Dokter Internship Nyambi Guru SD (sehari)


11/06/2013 — Saya bengong dengar teriakan semangat para siswa SD N 3 Kayubihi, Bangli, Bali, tempat saya menjadi relawan pendidikan ini (semangat sekali mereka bersekolah hari ini?). Sudah tidak soal lagi siapa menginspirasi siapa karena hari ini setiap orang—guru, siswa, relawan, staf sekolah, orang tua siswa, dan tim KIB—dengan perannya masing-masing, mampu saling menginspirasi dan membuka mata yang mungkin selama ini “tertutup”. Tertutup oleh kepentingan pribadi, golongan, adat, kepercayaan, dan lain sebagainya. Hari ini, setidaknya tangan yang terpangku itu tidak lagi terlipat dan mulai turun memberikan manfaat. Sadar akan pentingnya pendidikan sebagai modal dasar dan utama kebangkitan bangsa, berhak dienyam oleh semua anak dimanapun di negeri ini,  dan merupakan tanggung jawab bersama setiap warga negara terdidik. Tidak soal siapa kamu dan apa profesimu. x               Baru satu bulan (dari satu tahun masa tugas) saya di Bali, hati seketika membelalak ketika secara tidak sengaja membaca informasi dibukanya rekruitmen relawan pendidikan Kelas Inspirasi Bali (KIB) melalui sebuah media sosial. KIB sendiri merupakan suatu gerakan untuk menghimpun para profesional yang peduli pada misi pengembangan pendidikan di Indonesia. Dan Bangli menjadi kota pertama di Bali yang mengadakan Kelas Inspirasi ini (termasuk periode ke-2 di Indonesia).

Passion yang lebih untuk pendidikan dan kesehatan? Iya sih..makanya jadi semangat banget ikut kegiatan kayak gini. Application approved dan saya, bersama puluhan orang relawan pendidikan lainnya dari berbagai macam latar belakang dan profesi (guru, dosen, perawat, resepsionis, bupati, kepala desa, PNS, pegawai swasta kapal pesiar, dokter, jurnalis, dsb) dengan segala upaya meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran di sela-sela rutinitas wajib sehari-hari semata-mata hanya untuk dapat bertemu dan hadir di depan kelas adik-adik yang telah ditentukan. Membawa apa yang bisa kami bawa. Berbagi mimpi. Dan saling belajar.

Latar belakang saya bukanlah seorang guru atau pendidik yang ahli dalam hal mengajar (apalagi ini anak SD!), sehingga muncul kecemasan tersendiri akan hal ini. Namun dengan judul ‘Kelas Inspirasi’ saya yakin (meyakinkan diri sendiri) bahwa ini bukanlah kelas biasa, bukan pelajaran seperti biasa, dan bukan guru biasa! Kelas hari ini adalah bagaimana saya hadir, bermain sambil saling berbagi cita-cita, menggali potensi, dan bermimpi bersama-sama mereka. Kelas (di)luar biasa(nya). Melalui tulisan ini saya mencoba berbagi sedikit pengalaman yang saya alami dan rasakan ketika mengikuti dan menjadi relawan KIB kemarin.

Kelas 1 dan 2Dimulai dari rombongan belajar (rombel) pertama yang saya masuki, gabungan kelas 1 dan 2. Berbeda dari kebanyakan relawan KIB di tempat lain, kecemasan yang membayang-bayangi bagaimana susahnya mengatur, menarik perhatian, serta mempertahankan perhatian anak-anak kelas 1 dan 2 SD  sekejap sirna sejak pertama saya melangkah memasuki kelas. Tergantikan dengan semangat anak-anak tersebut yang—terus terang saja—menular dan memberikan optimisme serta meningkatkan kepercayaan diri saya. Di luar dugaan mereka sangat kooperatif, aktif, dan responsif akan segala kegiatan yang kami lakukan di dalam kelas. Mulai dari bernyanyi, games, mendengarkan cerita, sampai aktif tanya-jawab.

Hal berkesan dari rombel ini : baru saja hadir di kelas pertama saya menemukan ternyata rumor tentang ‘dokter merupakan cita-cita klasik paling populer di kalangan anak SD’ sangat benar adanya. Seluruh—yak benar, semua—siswa mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang ingin menjadi dokter. Mereka belum mengerti profesi macam apa itu sebenarnya :p hehe. Untuk saat ini saya berpikir tak apalah meng-iya-kan dan menyemangati  dulu tanpa penjelasan panjang lebar plus-minus dokter yang sebenarnya. Yang mereka perlu tahu saat ini, milikilah cita-cita menembus langit, harus bisa bermanfaat buat orang banyak, dan cara mencapainya adalah dengan terus semangat sekolah dan rajin belajar.

               Kelas 3 dan 4 Merasa (cukup) berhasil di rombel pertama, saya memasuki rombel kedua yang merupakan gabungan anak kelas 3 dan 4. Di rombel ini ada seorang anak spesial dengan segala kelebihan  keterbatasannya. Semangatnya untuk sekolah mengalahkan segala keterbatasan fisik yang tidak menjadi penghalang untuknya berprestasi dan memiliki cita-cita tinggi. Di rombel kedua ini antusiasme yang tinggi juga tampak dari sorot mata anak-anak dengan kehadiran kami, guru sehari.

Hal berkesan di rombel kedua: percaya diri dan inisiatif mereka yang tinggi terbukti saat games. Sesuai kesepakatan bersama, kenang-kenangan bagi teman mereka yang kalah adalah joget di depan kelas, sementara  teman-temannya yang lain justru “menawarkan” diri untuk bernyanyi bersama demi mengiringi teman mereka di depan yang berjoget. Tidak ada malu-malu. Selain itu, ada seorang anak yang senang menari bali yang hanya dengan sekali ajakan anak ini langsung maju dan mempraktekkan sedikit gerakan tari tersebut lengkap dengan seledet dan ngliyer-nya 😀

Rombel ke-3 terdiri dari anak-anak kelas 5 SD yang berjumlah 34 siswa (kelas paling banyak di SD ini). Saya melihat suatu sisi kedewasaan sekaligus dalam dunia kanak-kanak mereka. Tidak hanya bersemangat pada saat bermain namun juga saat waktunya “berdiskusi aktif”. Diskusi aktif yang saya maksud adalah dengan latar belakang saya dari dunia kedokteran dan sebagai dokter lulusan baru, saya dapat mengajak mereka untuk berdiskusi seputar kesehatan yang terjadi di dunia mereka, dunia sekolah dasar, dan dunia anak-anak. Bagaimana dalam meramu dan menggapai cita-cita tidak hanya membutuhkan usaha dan kerja keras dalam hal belajar namun yang paling penting lainnya adalah butuh kesehatan, yang tidak ternilai dengan apapun.

Hal berkesan dari rombel ke-3 ini : di setiap kelas (termasuk rombel ini) saya selalu mengajak anak-anak untuk entah itu menggambar, melukis, ataupun menuliskan mimpi dan cita-cita mereka, kemudian dipajang disuatu tempat agar dapat mereka lihat, baca, resapi, dan doakan setiap hari. Belum selesai kelas inspirasi ini ternyata ada seorang anak yang karena intuisi atau keinginannya yang besar “menyelipkan” mimpi, doa, dan cita-cita nya tersebut ke dalam buku tulis sekolah yang ia bawa dan buka setiap hari.

Kelas 5
Cogito Ergosum

Di rombel ke-4 sekaligus rombel terakhir berisi anak-anak kelas akhir sekolah dasar, yakni kelas 6. Saya seperti mendapat tantangan yang lain dari rombel-rombel sebelumnya. Kesan pertama yang saya tangkap adalah semangat mereka sangat baik ketika bersama-sama namun keberanian individu untuk berekspresi dan mengungkapkan ‘siapa saya’ tampak masih kurang. Mereka bisa menjawab secara serempak setelah SD semua akan meneruskan ke SMP (entah memang mereka semua merasa penting sekolah tinggi, entah hanya biar kompak dengan teman-teman yang lain?). Berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya yang dengan lantang dapat menyebutkan cita-cita masa depan mereka—entah itu dokter, dosen, perawat, guru tari, pemain bola—anak-anak kelas 6 justru terlihat lebih tidak yakin akan cita-cita mereka. (Ini jam pelajaran terakhir, mungkin udah pada bosan, eih? xp)

Kelas 6Saya membuka kelas dengan menayangkan sebuah video yang menggambarkan bagaimana bayi berusia 6 minggu dapat menyelam selama beberapa menit di dalam air tanpa menggunakan alat atau bantuan apapun (dan tanpa rekayasa!). Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa sesuatu luar biasa sebenarnya tersimpan di dalam diri setiap anak. Dan terkadang hanya dalam kondisi tertentu kualitas tersebut baru akan muncul. Ibarat seorang anak burung harus didorong untuk jatuh dari atas pohon untuk dapat terbang dengan baik. Begitu pula mereka.

           Hal berkesan di rombel terakhir ini : diantara 29 siswa lainnya, ada seorang anak laki-laki duduk paling depan dengan sorotan mata lebih terang dari yang lain, Santika. Seperti biasa, saya bertanya ‘Siapa yang cita-cita nya menjadi dokter?’. Hanya segelintir yang mengangkat tangan, termasuk Santika. Ia diminta berbicara tentang cita-citanya tersebut di depan semua teman-temannya. Tidak perlu berkali dan bersusah memintanya, Santika langsung berjalan dan berdiri di depan kelas. Dengan lantang, kepercayaan diri, dan penuh optimisme iya “berbicara”. Kenapa santika ingin menjadi dokter? Pertanyaan standar saya. ‘Bayangkan berapa banyak orang yang akan meninggal setiap detiknya jika tidak ada dokter.’ jawab Santika diplomatis. Memang Santika mau jadi dokter apa? ‘Dokter ahli jantung’ jawabnya mantap. Kenapa?. ‘Menurut penelitian, penyakit jantung merupakan salah satu penyebab terbanyak yang mengakibatkan kematian’ dengan lancar kalimat tersebut keluar diiringi dengan gerak tangan dan bahasa tubuhnya yang sesuai.

Future Cardiologist
Segala sesuatu diawali dari pikiran 🙂

Atas keberanian dan optimismenya saya hadiahkan Santika ‘suara jantung’ yang didengarnya langsung untuk pertama kali melalui stetoskop 😎

* catatan kaki: Meskipun kecil, besar harapan saya apa yang kami lakukan hari ini tertanam barang sekecil biji jagung yang terus tumbuh dan berkembang dalam hati dan pikiran anak-anak. Semoga program semacam ini dapat terus menyala bagai milyaran lilin-lilin halus yang menerangi nusantara.

Pendidikan adalah kewajiban konstitusional negara. Tapi mendidik adalah kewajiban moral setiap orang terdidik. -Anies Baswedan

Dan sifat kesukarelaan, sifat dari hati, tidak ternilai dengan rupiah 🙂

Source : http://kelasinspirasibali.org/testimoni-zamrina-adilafatma/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s