Medicine: Science or Art?


ImageMedicine is science and art”. Filosofi ini diajarkan kepada semua dokter sewaktu masih menempuh pendidikan kedokteran di bangku kuliah. Science dalam konteks bahwa ia sebagai suatu disiplin ilmu yang dijabarkan dengan paradigma science secara umum, mengikuti alur berpikir logik dan analitik. Ia menganut pola pikir ‘Newtonian’ dalam arti luas. Jika ada aksi, maka ada reaksi. Jika nyeri, maka berikan anti nyeri. Terlihat sangat sederhana, tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Banyak sekali wilayah yang belum terjelaskan oleh alur pikir science yang ada. Banyak yang masih samar bahkan gelap dalam bidang ilmu yang objek utamanya adalah manusia ini. Karena itu dia butuh Art atau seni tersendiri untuk bisa dioperasionalkan dengan harmonis. Seni untuk tetap bisa eksis ‘menjinakkan wilayah gelap fisiologis manusia’ agar tujuan pengobatan bisa berjalan baik.

Manusia terlalu kompleks untuk disederhanakan dengan persamaan matematis. Bahkan metode penelitian empiris yang ada hanya bisa melihat manusia secara terpisah, tidak dalam keadaan utuh. Melihat sel tanpa mengikutkan jiwa sel pada saat bersamaan.

Meneliti otak hingga tingkat molekul namun belum bisa meneliti yang terjadi di liver (hati) pada saat yang bersamaan. Bahkan mungkin hanya sebatas mengambil kesimpulan analogis dari sebuah penelitian pada mencit laboratorium. Sampai disini, sangat mudah untuk memahami bahwa disiplin ilmu ini menyisakan sangat banyak ‘ruang gelap’, bahkan mungkin lebih banyak daripada yang bisa djelaskan dengan sangat baik oleh teori yang ada.

Alexis carel, dokter peraih nobel asal Perancis, dalam bukunya, Man The Unknown, berbicara mengenai kompleksitas manusia dan terbatasnya cakupan science untuk menjelaskannya sebagai berikut :

“…There is a strange disparity between science of inert matter and those of life. Astronomy, mechanics, and physics are base on concepts which can be expressed, tersely and elegantly, in mathematical language…. Such is not the position of biological science. Those who investigate the phenomena of live are as if lost in an inextricable jungle, in the midst of a magic forest, whose countless trees unceasingly change their place and their shape. These abstraction, and not the concrete facts, are the matter of scientific reasoning. The observation of objects constitutes only a lower form of science, the descriptive form….”

“Man is indivisible whole of extreme complexity. No simple representation of him can be obtained. There is no method capable of apprehending him simultaneously in his entirety, his parts and his relations with the outer world. ….We are very far from knowing what relations exist between skeleton, muscles and organs, and mental and spiritual activities”Image

Dalam konteks praktis medis, realita ini mengahasilkan sebuah konsekuensi ada wilayah tindakan yang bisa dicegah dampaknya dengan kehati-hatian dan ada pula yang tidak sama sekali. Apa maksudnya? Kesalahan menyuntikkan jenis obat adalah sesuatu yang ‘kasat mata’ dan bisa dicegah. Jika tetap terjadi, layak dinamakan ‘kelalaian’ karena ia harusnya tidak terjadi jika bekerja dengan hati-hati. Emboli air ketuban, sesuatu yang bisa dirasionalisasi proses kejadiannya secara sains hingga bagaimana ia bisa membunuh nyawa manusia, namun sangat sulit ‘meramal’ kepada siapa ia pasti terjadi. Sejauh ini, cara meramalnya hanya diwakili oleh bahasa sains ‘faktor risiko’ yang sangat jauh dari kemungkinan memastikan siapa yang sedang ‘dapat arisan’ 1 dari tiap 8.000-30.000 pasien yang melahirkan. Mau hati-hati? Sangat kecil kemungkinannya kalaupun tidak ingin mengatakan tidak ada tempat untuk berhati-hati. Belum lagi jika konteksnya adalah negara berkembang seperti Indonesia yang anggaran kesehatannya super irit. Sesuatu yang harusnya terang benderang pun bisa jadi gelap karena alasan biaya sehingga dokter harus mengalah pada negara yang ‘tak mampu’ untuk tetap bekerja dengan fasilitas minimalis tapi hasil tetap standar dari sisi keselamatan dan kesembuhan pasien.

“We work in the dark — we do what we can — we give what we have. Our doubt is our passion and our passion is our task.” ~ Leo Tolstoy

Lalu, apa solusinya? Komunikasi. Asas hubungan dokter pasien adalah kepercayaan. Pasien harus memahami bahwa dirinya mungkin saja saat ini sedang berada di ‘ruang gelap’ dan dokter yang menolongnya bekerja ‘dalam kegelapan’ (sesuatu yang tidak dapat diramalkan misalnya). Hal ini berujung pada sebuah konsekuensi berikutnya dalam sistem kesehatan secara luas, yaitu dokter harus dilindungi di wilayah gelap supaya dia bekerja dengan aman dan nyaman, tidak dalam tekanan ancaman bui. Negara harus mengkompensasi kekurangannya sebagai penentu segala macam kebijakan maupun program pelayanan kesehatan yang sangat terbatas dengan melindungi dokter yang telah mengalah untuk tetap menolong pasien dalam ‘wilayah gelap’ demi kemanusiaan.

Dengan begitu kebal hukumkah seorang dokter? Jawabannya tentu tidak. Silakan perkarakan dokter pada wilayah terang (wilayah yang layak diperkarakan), dan pahami ia saat ia memang tak punya daya upaya terhadap situasi yang ada. Pahami disiplin ilmu ini sebagai suatu wilayah science sehingga mudah merasionalisasinya, namun jika masuk wilayah art, tak akan mudah memahaminya begitu saja. Orang wajar-wajar saja berbeda persepsi menilai sebuah seni, namun mungkin akan semakin kecil perbedaan penilaian itu jika ia dinilai oleh orang-orang yang sama-sama menekuni bidang seni yang sama, paling tidak, ia bisa menghargai perbedaan ‘cita rasa seni’ sehingga tidak menilai secara harfiah benar-salah atau hitam-putih.

Dalam kaitannya dengan kasus-kasus yang menyangkut kerja seorang dokter, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) lebih kompeten untuk menilai dokter dari sisi science sekaligus art. Sehingga jika terjadi tuduhan atau laporan kelalaian dari suatu tindakan medis yang dilakukan dokter terhadap pasien, MKEK dan MKDKI dinilai lebih kompeten dan berhak menentukan apakah kejadian tersebut memang suatu kelalaian misalnya ataukah merupakan suatu risiko medis dari ‘wilayah gelap’ ilmu kedokteran itu sendiri yang tidak dapat dibebankan kepada dokter semata. Seperti halnya jika ‘scientist’ murni yang menilainya, maka jadilah ia keliatan kaku dan banyak hal yang tidak proporsional terjadi. Namun jika ia dinilai ‘seniman’ murni, silakan jawab sendiri apa yang bakal terjadi. Pada akhirnya dokter bukanlah scientist yang mengaplikasikan science yang ia kuasai tanpa seni, dan bukan juga seniman yang keluar dari aturan main berpikir scientific. [SHF/ADL]

Image
(Kontributor: Said Shofwan / Editor: Zamrina Adilafatma)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s