Makhluk Kecil Itu Bernama Adila!


December 2nd, 24 years ago…….

Di sebuah bed persis di pinggir jendela sebuah ruang bersalin di lantai 3 suatu Rumah Sakit Umum Pusat ibukota, sepasang suami-istri sedang gelisah menunggu hadirnya seorang manusia baru lagi yang akan hadir ke dunia. Manusia yang akan keluar dari rahim sang istri. Manusia yang sudah dinantikan kehadirannya jauh-jauh hari sebelumnya. Seperti apa bentuknya, bagaimana rupanya, bagaimana keadaannya, laki-laki atau perempuan, gemuk-kurus, berambut lebat-botak, dan lain sebagainya. Saking banyaknya pikiran dan pertanyaan yang berenang-renang di kedua otak suami-istri tersebut, sampai akhirnya mereka tawakal dan fokus pada satu hal: yang penting ibu dan anak SELAMAT dan SEHAT. Amin.

Sekitar pukul 14:30 WIB makhluk mungil imut-imut itu hadir dan mulai menghirup oksigen dunia sambil teriak-teriak menangis. Setelah sekitar 40 minggu ‘hidup’ dalam lingkungan rahim dan berenang-renang dalam air ketuban, dimulai lah episode kehidupan

dunia baginya. Terlahir dengan persalinan normal, dipimpin seorang spesialis kandungan yang kalau kata sang istri juga dibantu beberapa orang residen obgyn, dengan berat badan lahir 2980 gram, berjenis kelamin perempuan, dan berambut hitam lebat ketika lahir. Suami-istri yang kemudian dipanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’ itu tampak sangat bersyukur. Rasa sakit yang beberapa hari terakhir sampai puncaknya menit-menit akhir sebelum kelahiran yang dialami bunda seolah hilang berganti dengan haru dan syukur. Makhluk imut-imut itu kemudian dipanggil ‘adila’, diambil dari nama tengahnya: zamrina adilafatma.

* 22,5 years ago……

Adila tumbuh dan berkembang seperti balita lainnya dengan ASI eksklusif. Di lingkungan keluarga yang kondusif dengan orang tua yang care, mulai dari imunisasi, pendidikan, kesehatan, hiburan, dsb. Adila lebih cepat ngomong daripada berjalan (tipikal anak cewe, katanya). Suka susah makan. Paling ga suka kalau dikasih makan ati ayam, pasti langsung disembur ke siapa aja yang ada di depannya saat itu. Ini yang bikin siapapun yang nyuapin Adila harus ikutan pake celemek atau pake baju jelek yang rela kena semburan makanan. Sukanya sama bubur Farley. Oia, di bulan ke 18 kurang lebih usianya Adila udah punya adek, laki-laki, dipanggil ‘fiki’. Otomatis mulai saat itu  walaupun sebel, Adila udah harus bisa membagi semua yang sebelumnya eksklusif hanya untuknya. Termasuk urusan mimik sama gendong bunda.

* 21,5 years ago…….

Adila udah semakin pandai. Udah bisa lari-lari, mengoceh dengan bahasa yang sudah jelas, udah bisa bergaya di depan kamera, corat-coret baik kertas maupun tembok, main boneka bayi, dll. Bundanya Adila seorang guru. Tiap pagi melihat bundanya berangkat ke sekolah Adila sering minta ikut ‘mau ke sekolah juga’ katanya. Akhirnya Adila dimasukin sekolah Kak Seto yang bertempat di ITC Mangga Dua. Umur 2,5 tahun Adila mulai ‘sekolah’! Semacam PAUD yang terlampau dini, mana mahal pula dengan kurs USD saat itu haha. Sekolah yang isinya cuma main-main, melatih motorik sensorik tumbuh kembang anak.

* 20,5 years ago…….

Setahun setelah dari Kak Seto, umur Adila udah cukup untuk masuk playgroup biasa. Playgroup Tadikapuri di jalan Lodan, lebih dekat rumah, dengan biaya yang lebih terjangkau. Di playgroup ini ada kebiasaan makan siang bareng. Menu langganannya sop pake kerupuk bawang warna-warni. Adila suka sekali! Selain playgroup hari-harinya banyak dihabiskan dengan tidur, makan, minum susu, TPA, main masak-masakan pake tanah dan dedaunan, belajar sholat (walopun suka males), belajar berenang, belajar sepeda, belajar hal-hal mandiri lainnya. Yang pasti suka malas bangun juga. Suka bandel dan nakal juga. Suka berantem sama adeknya. Masih ngompol!

* 19,5 years ago…….

Hanya setahun playgroup Adila masuk TK A, umur 4,5 tahun. Kenapa sih musti pake 0,5an segala? Iya emang habisnya lahir di akhir tahun sih, sedangkan awal tahun ajaran mulai di pertengahan tahun. Jadi itungannya tetep belum cukup umur kalo sebelumnya. Di TK Adila udah lebih nakal lagi. Udah tau mana temen mana ‘musuh’. Eh maksudnya yang bukan temen deket. Belajar nari ‘dindin badindin’.

* 18,5 years ago…….

Cuma bertahan satu tahun di TK, Adila udah bosan katanya TK dan minta langsung SD. Umur 5,5 tahun, Adila walk out, ga lulus TK. Kemudian dicariin ayah bunda SD yang mau nampung anak usia kurang dari 6 tahun. Syukurlah ada SD Trisula Perwari. Adila pake seragam putih-merah dengan badan yang masih kecil unyil (dan tetep masih susah makan). Pergi sekolah diantar ayah atau siapa yang bisa ngantar. Pulangnya naik mobil jemputan sekolah. Udah les berenang dia. Oia, kurang lebih usia segini Adila udah punya adik ke-2. Laki-laki lagi. Temen berantem lagi. Panggilannya ‘ale’….Matraman-20110813-00736

December 2nd, 2013.

24 years since she was born……

Sedang menjalani program dokter internship di Bali, Adila yang dulu awal sekali beratnya 2.980 gram sekarang udah kurang lebih dari 51.000 gram! Adila yang dulu mau lahir ditolong dokter sekarang sudah jadi dokter yang menolong bayi-bayi lainnya keluar dari rahim. Sudah 24 tahun ia lewati. Dengan segala macam nikmat yang udah Allah kasih, ga ada kata lain selain ucapan syukur, syukur, dan syukur. Terima kasih atas usia yang bertambah dalam hitungan manusia ini, namun berkurang di hitungan Allah. Adila hanya berharap agar segala pinta dan doa-doanya dapat diijabah Allah. Doa untuk kebahagiaannya, ayah-bunda dan keluarganya, sahabat dan teman-temannya, guru-gurunya, dan semua orang yang telah memberi andil sehingga ia dapat menjadi seperti apa saat ini. Amin ya rabbal’alamin. [ADL]

Amlapura, Desember 2nd 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s