Kisah Tiga Kaca-mata


Saya ingin sharing sebuah kisah, sederhana, ringan, namun bagi yang mau berpikir lebih, ini adalah tentang sebuah filosofi hidup. Tokoh utamanya adalah tiga buah kaca-mata yang saya punya saat ini, maupun saat lalu. Antara kaca dan mata saya beri tanda ‘ – ‘ dengan maksud menerjemahkannya secara harfiah. Kaca, ya yang bisa terbuat dari berbagai macam bahan tentunya –yang dalam kasus ini tidak secara harfiah terbuat dari kaca pecah belah– yang digunakan pada sepasang mata kita literally. Nah ini sebenarnya tidak penting, jadi langsung aja ke bagian cerita (yang penting) nya ya.

Kaca-mata pertama, sebut saja ‘Satu’, berusia kurang lebih 6 tahun. Satu yang saya adopsi dari tukang kacamata sekitar akhir tahun 2012 itu berbahan full plastik/mika baik lensa maupun frame-nya. Full frame berwarna ungu tua. Cukup netral untuk dipakai sehari-hari dengan outfit apapun. Kalau menurut beberapa teman, saya terlihat pas dan cocok memakai kaca-mata dengan model seperti itu. Kesannya lebih fresh karena berbeda dengan kacamata saya sebelumnya yang half-frame.

Satu merupakan kelahiran tangan lokal pribumi asli di Jogja. Ketika dirinya sudah matang dan siap mengabdi, Satu diletakkan di sebuah toko optik sederhana ala mahasiswa di kawasan jalan Kaliurang. Dengan info dari teman yang promosi unpaid secara tidak langsung, yang katanya optik tersebut menawarkan kacamata-kacamata berkualitas lumayan oke dengan harga miring, saya jadi tertarik mencoba. Sebelumnya saya sebenarnya sudah mengetahui adanya optik tersebut namun tidak pernah sekalipun terbersit ingin beli kaca-mata disana atau optik ala mahasiswa lainnya yang bertebaran di Jogja.

Saya cukup konservatif dalam hal ini karena sejak awal saya menjadi pengguna kacamata (kira-kira dari SMA) saya punya sebuah optik langganan di Jakarta. Bukan optik ternama yang umum di khalayak, namun walaupun tidak besar, para optician (bukan ophthalmologist)  disana sangat berpengalaman dan memiliki latar belakang ilmu pendidikan yang sesuai di bidangnya. Jadi kalau ada apa-apa dengan kaca-mata saya, baik rusak atau ganti baru atau perbaikan atau mau periksa visus, saya selalu ke optik tersebut. Apalagi karena pernah trauma mencoba di optik lain yang tidak sesuai harapan, saya jadi hati-hati kalau mau beli kaca-mata.

Nah entah bagaimana akhirnya pikiran saya berbelok ingin mencoba beli kaca-mata di optik ala mahasiswa tersebut, dan kemudian bertemu Satu. Sekali coba saya langsung merasa cocok. Namun karena namanya banyak model lain yang dipajang disana tetap saja saya coba sana coba sini. Ditambah lagi dengan tipe self-service saya bebas mencoba kaca-mata mana saja yang saya mau sesuka hati. Ambil-coba-lalu letakkan kembali sendiri. Etalase  free tidak dikunci, membuat saya lamaaaa untuk menentukan pilihan. Hingga akhirnya pilihan akhir kembali lagi ke pilihan awal, si Satu.

Dengan modal 100k IDR saya sudah bisa membawa pulang Satu, sudah termasuk lensa dan frame!! Tidak seperti kacamata-kacamata saya sebelumnya yang sudahlah jauh lebih pricey, harus pesan dan menunggu beberapa hari. Di optik tersebut saya bisa membawa pulang Satu hanya dengan menunggu beberapa jam. Hasilnya pun cukup memuaskan. Memang saya tidak meng-set ekspektasi apapun sih, dengan Satu yang tanpa merek atau nama besar keluarga, tapi toh justru lebih hepii jadinya hhe..

Kaca-mata yang kedua, sebut saja ‘Dua’, lahir beberap bulan setelah saya memiliki Satu (lupa tepatnya). Dua merupakan keturunan cukup bangsawan, bisa dibilang begitu. Kisah Dua akan berlanjut dipostingan berikutnya.. hehe, nantikan ya.

*semoga ada kesempatan buat nerusin..ditengah2 case yang ga selesai2🙃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s